de' bhora's blog

tell the world what you want to..

Dimanakah Pancasila Kita? Disimpan? Digadaikan? Dijual? atau Dibuang?

pada September 29, 2010

Akhirnya saya tersadar bahwa selama ini ada hal penting yang terlupakan. Hal penting? Bagaimana mungkin hal yang katanya penting dapat luput dari ingatan? Ya, jawabannya adalah karena bukan hanya saya yang lupa akan hal itu, tapi beribu-ribu bahkan beratus-ratus juta jiwa di negara ini melupakannya. Bukan hal yang aneh rasanya jika hal itu seolah pudar dari ingatan kita. Lantas, apakah yang saya maksud dengan ‘hal itu’?
Saat itu saya berada dalam kelas dengan mata kuliah berjudul Pendidikan Pancasila. Sebelumnya saya pernah berkomentar “Aduh, kenapa sih harus ketemu sama beginian lagi?” lalu komentar itu ditanggapi positif oleh beberapa teman yang lain. Bagaimana tidak? Enam tahun menjalani pendidikan sekolah dasar, tiga tahun pendidikan menengah pertama, dan tiga tahun pula untuk pendidikan menengah atas seharusnya sudah cukup untuk mencicipi ‘si Pendidikan Pancasila’ itu.
Dengan nada enteng dan senyum penuh arti, bapak dosen bertanya pada mahasiswanya, “Pancasila masih ada nggak ya?” Kontan kami semua yang berada dalam kelas tertawa. “Ya masih ada lah, Pak.” jawab kami santai. Masih dengan senyuman yang cukup sulit untuk diartikan, Beliau membuat saya –entah teman-teman yang lain sama seperti saya atau tidak− tertegun. “Kalau negara kita bisa menerapkan sila pertama saja, saya yakin negara ini aman. Kalau negara ini mengingat Tuhan, negara ini akan jadi negara yang sexy. Sexy yang saya katakan artinya sempurna dan mengundang.”
Saya sangat setuju dengan apa yang Beliau katakan. Bukan hal yang bodoh atau aneh jika Beliau menanyakan keberadaan Pancasila yang sejak saya mengenal pendidikan disebut-sebut sebagai ideologi negara. Kalau memang Pancasila itu masih ada, mengapa negara ini tidak menunjukkan sikap sebagai pemiliknya? Mungkin bila diminta untuk menyebutkan bunyi setiap sila dalam Pancasila kita dapat melakukannya dengan mudah, lancar, dan tanpa beban. Namun di balik itu semua ada hal yang lebih penting, yaitu bagaimana kita sebagai warga negara Indonesia merealisasikannya dalam kehidupan nyata.
Pancasila ada bukan hanya sekedar untuk dibacakan oleh pembina upacara dan diucap ulang oleh peserta upacara. Pancasila ada bukan hanya sebagai identitas negara. Pancasila bukan hanya diingat keberadaannya setiap peringatan hari kelahirannya pada tanggal 1 Juni atau setiap peringatan hari kesaktian Pancasila pada tanggal 1 Oktober.
Fakta yang masih nampak jelas mengenai pudarnya pengamalan Pancasila adalah berkaitan dengan sila pertama yang berbunyi ‘Ketuhanan yang Maha Esa’. Bukankah negara Indonesia bukan negara agama tertentu? Namun dalam kehidupan nyata kebebasan beragama masih belum dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Konflik dengan tajuk agama masih saja terjadi di negeri yang katanya bersemboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Contohnya yang saat ini sedang merebak, mengenai kasus HKBP. Entah yang mana yang benar, masing-masing beropini membela agama mereka.
Bagaimana dengan sila ‘Kemanusiaan yang Adil dan Beradab’? Mungkin bukanlah suatu kemunafikan bila saya mengatakan bahwa di dalam negara ini masih banyak manusia yang memperlakukan manusia lain dengan tidak manusiawi. Tentu Anda belum lupa akan Sumanto, Rian, dan lain-lain. Bagaimana mungkin manusia bisa membunuh sesamanya? Bukan hanya itu bahkan tega memakannya? Sungguh di luar nalar kita rasanya. Bagaimana dengan berpuluh-puluh kasus ayah yang memperkosa anaknya, anak yang memperkosa ibunya, dan lelaki abnormal yang memperkosa anak di bawah umur? Apakah itu menunjukkan suatu kemanusiaan yang beradab?
Seperti yang dikatakan oleh bapak dosen yang sudah menyadarkan saya, naluri kemanusiaan bangsa ini hanya muncul ketika bencana alam dan musibah lainnya terjadi. Ketika gempa bumi terjadi banyak orang berlomba mengirimkan bantuan. Ketika terjadi perang, hampir semua orang sibuk menyalurkan bantuan, baik berupa benda maupun doa. Sungguh disayangkan, mengapa hal-hal terpuji seperti itu hanya terjadi sebagai reaksi dari kemalangan yang sedang ‘in’. Bukankah masih ada 31,02 juta jiwa di negara ini yang menyandang status sebagai penduduk miskin?
Hal yang sama mirisnya pun terjadi pada perwujudan sila ke-3. Seperti apakah bunyinya? Ya, benar sekali.. ‘Persatuan Indonesia’. Sila dengan bunyi terpendek itu ternyata memiliki makna yang sangat besar dan menuntut tanggung jawab penuh dari kita sebagai bangsa Indonesia. Apakah kita sudah bersatu? Rasanya itu hanya jadi wacana, apalagi ketika memasuki bulan Agustus, tepatnya tanggal 17, hari kemerdekaan kita. Saya pribadi merasa demikian. Seringkali bukan kita mendengar kalimat ‘kita semua bersaudara’ atau ‘satu untuk semua- semua untuk satu’ dan semboyan lain sejenisnya? Adakah realisasinya? Bagi saya tidak artinya semboyan itu digembor-gemborkan demi mengobarkan semangat persatuan pada peringatan hari kemerdekaan. Apa hanya pada hari kemerdekaan saja kita harus bersatu? Kalau begitu keadaannya saya pribadi mengaharapkan setiap harinya adalah hari kemerdekaan kita sehingga semangat persatuan akan terus hangat dalam diri kita.
Beralih ke sila ‘Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan’. Yang menarik perhatian saya ialah salah satu butir dari sila ke-4 ini yang berbunyi ‘Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan’. Yang menjadi pertanyaan adalah mampukah bangsa ini mempercayakan nasibnya pada wakil-wakil yang tergabung dalam lembaga DPR atau MPR? atau dalam kata lain, sudahkah wakil rakyat memberikan hasil setimpal dengan kepercayaan yang diserahkan rakyat ke tangan mereka? Satu lagi yang juga cukup menarik perhatian adalah butir yang berbunyi ‘Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.’ Pertanyaannya sangat sederhana, sudahkah hal itu terjadi secara nyata dalam kehidupan yang nyata pula?
Terakhir adalah sila ke-5 yang berbunyi ‘Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia’. Rasanya gambar timbangan yang melambangkan keadilan di negeri ini jarang yang berkedudukan sama pada kehidupan nyata. Ada yang berat di sisi kanan, ada yang berat di sisi kiri yang berarti keadaan yang menunjukkan ketidakadilan. Memang, saya bukanlah ahli hukum di negeri ini, saya belum pernah bersentuhan dengan meja hijau dan kursi pesakitan, namun ada hal-hal yang bisa membuat saya berfikir bahwa timbangan kita sering berat sebelah. Berapa banyak koruptor di negeri ini yang sudah tertangkap? Satu? Dua? Sepuluh? Lebih dari itu. Tapi semua penjahat berpendidikan itu di kerangkeng kelas eksklusif bukan? Bedakan dengan yang dipenjara dengan kasus pencurian, penipuan, dan lain sebagainya. Bukankah koruptor juga seorang pencuri? Pencuri uang negara yang jauh lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan apa yang dicuri oleh pencuri awam. Adilkah ini?
Apa yang saya tulis di sini mungkin tidak sepenuhnya benar, tapi inilah opini saya mengenai kaitan dengan pancasila kita. Semoga apa yang benar dari saya dapat menyadarkan kita semua, sama seperti Bapak Dosen yang secara tidak langsung telah melakukan hal itu pada saya sehingga kita semua dapat menjawab judul artikel ini dengan pasti. Mari kita tanam, pupuk, dan pelihara rasa cinta terhadap negeri ini, negeri Indonesia.

Berikut ini adalah 45 butir pancasila. Semoga bermanfaat dalam upaya pengamalan di kehidupan sehari-hari.
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
(1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan YME.
(2) Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan YME, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
(3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan YME.
(4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME.
(5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan YME.
(6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
(7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME kepada orang lain.
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
(1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
(2) Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit, dsb.
(3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
(4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
(5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
(6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
(7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
(8) Berani membela kebenaran dan keadilan.
(9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
(10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
3. Persatuan Indonesia
(1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
(2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
(3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
(4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
(5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
(6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
(7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
(1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
(2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
(3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
(4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
(5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
(6) Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
(7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
(8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
(9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
(10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
(1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
(2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
(3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
(4) Menghormati hak orang lain.
(5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
(6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
(7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
(8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
(9) Suka bekerja keras.
(10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
(11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: