de' bhora's blog

tell the world what you want to..

Tangan Meminta di Pandangan Mata

pada Oktober 5, 2010

Saya adalah pengguna rutin jasa angkutan kereta rel listrik (KRL) divisi Jabodetabek. Hampir setiap hari saya memanfaatkan KRL sebagai sarana transportasi sehari-hari, baik untuk berangkat maupun pulang dari kampus. Seperti yang kita ketahui, ada tiga kelas KRL, yaitu kelas ekonomi, ekonomi AC, dan ekspress. Menyesuaikan dengan saku mahasiswa, saya lebih sering membeli tiket KRL ekonomi karena harganya yang ekonomis —atau lebih familiar dengan sebutan murah meriah— dibandingkan dengan dua jenis tiket lainnya.

Sesuai dengan harga tiketnya, KRL ekonomi tidak memiliki fasilitas yang membuat penumpangnya nyaman. Setiap harinya saya harus merelakan diri berdesak-desakan dengan penumpang lain. Bagaimana tidak? Tentunya bukan hanya saya yang memilih dapat sampai ke tujuan dengan harga yang ekonomis. Alhasil, setiap pagi sesampainya di kampus saya selalu berkeringat bahkan terlihat seperti baru saja keramas. Sudahkah terbayang di benak Anda?

Suatu siang sepulang dari perkuliahan, saya bergegas menuju stasiun untuk dapat secepat mungkin naik KRL ekonomi tujuan Bogor. Semakin sore KRL akan semakin ‘kejam’ dan itulah hal yang saya hindari. Ya! Harapan saya tercapai. Siang itu kereta cukup longgar meski saya tidak mendapatkan tempat duduk. Saya bergumam dalam hati, “Hmm.. Seandainya KRL Ekonomi seperti ini setiap harinya..” Belum selesai acara berandai-andai itu, sebuah tangan kecil menyentuh pinggang saya.

Tangan itu membuat saya sedikit memutar badan untuk bisa melihat si empunyanya. Ternyata dia adalah pengemis kecil yang kerap kali terlihat di dalam kereta dengan sejuta kalimat permohonannya. “Kak, bagi uangnya.. Sedikit aja, Kak..” Bagi saya kalimatnya itu lebih kedengaran seperti memaksa, bukan memohon. Itulah sebabnya tidak jarang bocah kecil itu menerima semprotan dari beberapa penumpang KRL. Bocah itu tidak akan berhenti meminta sampai mendapatkan uang, paling tidak uang logam pecahan Rp 500. Sudah cukup hafal dengan tindak-tanduk lelaki kecil itu, saya segera merogoh saku celana, menemukan sebuah logam bernilai Rp 500, lalu memberikan ke tangan mungilnya. Tepat seperti perkiraan, ia pun bergegas meninggalkan saya dan menghampiri target lainnya.

Semakin lama penumpang di dalam kereta semakin sedikit. Saya ditawari tempat duduk oleh seorang penumpang yang akan turun dan dengan senang hati saya menerimanya. Tak lama kemudian seorang ibu yang memiliki kekurangan fisik mendekati deretan kursi penumpang. Ia tidak bisa berjalan dengan kedua kakinya. Satu-satunya cara bergerak hanya dengan menyeret —maaf— pantatnya yang sudah dialasi dengan bahan sejenis karet ban. Miris memang melihat pemandangan demikian dan perasaan itulah yang mendorong saya untuk merogoh (lagi) saku untuk menemukan sekeping atau selembar Rupiah. Ya, saya menemukannya dan kemudian memberikan ke tangannya yang sudah mulai keriput, menunjukkan usia yang sudah tidak bisa dibilang muda.

Udara yang masuk lewat jendela ternyata tidak cukup untuk mengeringkan keringat di sekujur leher dan dahi. Demi menghilangkan rasa gerah, saya meraba isi tas dengan cukup sulit karena posisi duduk yang berdempetan dengan penumpang lain. Benda itu pun berhasil saya temukan, sebuah kipas lipat. Lima detik, sepuluh detik, setengah menit, satu menit, kemudian lima menit merasakan sedikit kesejukan, mata saya menangkap gerombolan pemuda yang sibuk membawa alat musik di tangannya masing-masing. Memperhatikan gerak-gerik dan persiapan mereka dengan berbagai alat musik itu membuat saya dapat menyimpulkan bahwa mereka adalah kelompok musisi jalanan. Selepas menyanyikan dua buah tembang yang cukup familiar salah satu dari mereka bergerak mendekati setiap penumpang sambil menyodorkan wadah plastik sebagai tempat uang.

Saya diam. Tangan saya sama sekali tidak bergerak. Hey, ada apa? Bukankah dua orang sebelumnya melakukan hal yang sama dengan mereka dan saya memberikan apa yang mereka harapkan? Lantas, mengapa kelompok pemusik ini tidak mendapatkan apapun dari saya? Saat itu yang ada dalam benak saya hanya “… mereka adalah lelaki. Mereka masih muda, kuat, sehat, dan memiliki potensi untuk bekerja. Mengapa mereka tidak bekerja?“

Jawaban untuk pertanyaan itu muncul dari benak yang sama, “mereka sudah bekerja bukan? Menyanyi di tempat umum, di depan khalayak merupakan suatu usaha juga bukan? Kalau begitu mengapa dua peminta-minta sebelumnya yang tidak melakukan usaha apapun mendapatkan Rupiah dari saya?”

“Kondisi mereka tidak mengizinkan untuk bekerja. Yang satu masih anak di bawah umur, tidak mungkin bisa bekerja dan yang satu lagi memiliki kondisi fisik yang tidak sempurna, atau dalam kata lain cacat fisik.”

“Aneh, mengapa anak kecil justru dibiarkan orang tuanya meminta-minta? Atau mengapa seorang wanita yang sudah jelas cacat dan tidak bisa bekerja justru dibiarkan terjun ke dunia luar, tidak lebih untuk menjadi pengemis? Kenapa bukan anggota keluarganya yang sehat dan cukup umur yang bekerja untuk mereka?”

Hening. Pikiran saya berhenti bersahutan. Saya tidak lagi bisa menjawab pertanyaan itu. Pendidikan moral, pancasila, sosiologi, atau kemanusiaan lainnya tentu mengajarkan kita untuk saling mengulurkan tangan bukan? Sering disebutkan bahwa rezeki yang kita dapatkan bukanlah milik kita sepenuhnya sehingga harus diberikan sekian bagian untuk kaum papa. Permasalahannya sekarang adalah bagaimana bila dalam setiap harinya kita bertemu dengan mereka yang disebut-sebut wajib untuk dibantu?

Contoh riilnya adalah pengalaman saya setiap harinya dalam perjalanan dengan KRL ekonomi. Di sana bukan hanya satu, dua, atau tiga orang yang memohon belas kasihan. Dalam perjalanan berangkat saya bisa menemui lebih dari sepuluh kaum papa dengan selang waktu satu sama lainnya hanya berkisar hitungan menit, begitu pula dalam perjalanan pulang. Sederhananya, dalam satu hari saya akan menemui paling tidak dua puluh pengemis yang memohon untuk diberikan uang sehingga dalam 25 hari kuliah saya akan menemui lima ratus orang yang sama setiap harinya, yang jika mengikuti nilai kemanusiaan harus ditolong —dalam hal ini dengan cara memberikan uang—.

Bukan, saya bicara seperti ini bukan berarti memperhitungkan setiap nilai Rupiah yang keluar dari saku, atau dalam kata lain kikir. Saya hanya bingung dalam mengambil sikap jika dihadapkan dengan keadaan demikian. Adakah pihak yang patut disalahkan? Ataukah hal ini merupakan kondisi yang tidak dapat dihindarkan?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: