de' bhora's blog

tell the world what you want to..

Memberi yang Baik Bukan Hanya Sekedar Memberi

pada Oktober 31, 2010

Lagi-lagi saya akan berbagi mengenai pengalaman saya ketika berada di KRL Ekonomi yang bagi saya cukup menarik. Pagi itu kira-kira pukul sembilan pagi. Selama menunggu waktu keberangkatan kereta mata saya tidak berhenti bergerak ke kanan dan kiri melihat setiap pemandangan yang layak untuk dilihat. Karena saat itu bukan jam padat untuk kereta, saya masih bias melihat deretan kursi beserta penupang di depan saya.

Beberapa saat kemudian seorang lelaki yang berusia belasan tahun datang sambil memegang sapu lidi untuk membersihkan kolong tempat duduk penumpang. Ia menyodorkan tangannya pada setiap penumpang untuk meminta kepingan Rupiah. Sampailah ia di depan seorang lelaki, yang saya tebak kurang lebih berusia mendekati tiga puluh tahun. Bocah lelaki itu menyodorkan tangan pada Bapak yang di depannya. Betapa terkejutnya saya begitu melihat apa yang diberikan oleh Bapak itu kepadanya. Sebatang Rokok.

Lebih mengejutkan lagi ketika bocah itu menerima sebatang rokok yang ia dapat lalu memasukkannya ke dalam saku celananya. Secara spontan saya memandangi Bapak itu dengan tatapan kesal, “Bodoh banget sih orang ini”. Ya, saya mengumpat dalam hati. Saya yakin seyakin-yakinnya Bapak itu pasti tahu bahaya dari rokok walaupun ia adalah seorang perokok. Apa buktinya? Selain sudah sangat sering dibahas, baik melalui media cetak, TV, radio, dll, pada kemasan rokok pun ditulis bahwa rokok itu berbahaya. ‘MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN’. Lantas mengapa ia membagi bahaya itu pada orang lain, apalagi seorang remaja? Bagi saya bocah itu pun salah. Meskipun rokok itu diberikan untukknya, mengapa ia harus menerimanya? Jadi siapa yang salah dalam hal ini?

Memang tak bisa disangkal saat ini fakta menunjukkan  bahwa rokok bukanlah ‘mainan’ bagi bapak-bapak saja, tetapi sudah menjalar pada anak di bawah umur. Sekitar 80 persen dari populasi perokok di Indonesia pada tahun 2007 ternyata berusia di bawah 19 tahun. Sesuai data Indonesia Tobacco Control Network (ITCN), proporsi perokok pemula remaja tersebut terus meningkat yang diikuti kelompok umur 5-9 tahun yang persentasenya naik dari 0,4 persen pada tahun 2001 menjadi 1,8 persen tahun 2004. Sungguh kenyataan yang memprihatinkan.

Mencoba menganalisis perbuatan Bapak itu, saya berfikir mungkin ia sudah mengetahui fakta tersebut —yang memang beberapa waktu lalu sempat menjadi topik hangat— lalu mengaanggap objek di depannya itu adalah salah satu dari 80 persen perokok tadi. Tidak ingin membohongi diri sendiri, saya pun sebetulnya beranggapan bahwa hampir semua anak jalanan —apalagi dengan tampilan urakan— sudah bersahabat dengan rokok. Namun menurut saya meskipun Bapak itu, atau bapak-bapak sejenis lainnya, beranggapan yang sama seperti saya, bukan berarti mereka boleh memberi kesempatan  dengan secara sengaja memberikan acikan tembakau tersebut. Itu sama saja dengan merestui sesorang untuk masuk ke dalam jurang.

Dari segi si penerima rokok tersebut banyak asumsi yang saya buat. Pertama, mungkin memang benar bocah itu adalah seorang perokok, sehingga dengan senang hati ia menerima pemberian Bapak tadi. Kedua, ia menerima apa saja yang diberikan oleh penumpang kereta. Misalnya ada yang memberi uang, ia terima, ada yang memberi makanan, ia terima, dan ada yang memberi minuman, juga ia terima. Ketiga, bocah itu sungkan untuk menolak pemberian Bapak tadi. Atau yang keempat ia sudah sering mendapatkan perlakuan demikian dari penumpang lain sehingga tidak perlu merasa aneh atau risih karena hal itu bukan sesuatu yang baru lagi.

Sungguh amat sangat disesalkan mengapa bocah itu tidak menolak pemberian Bapak itu. Walaupun hanya satu batang rokok, kandungan racun dan zat berbahaya di dalamnya sangat banyak., diantaranya nikotin yang dapat membuat ketergantungan, merusak jaringan otak,  menyebabkan darah cepat membeku, dan mengeraskan dinding arteri, tar yang berpotensi membunuh sel dalam saluran darah, meningkatkan produksi lendir di paru-paru, dan menyebabkan kanker paru-paru. Selanjutnya karbon monoksida yang mengikat hemoglobin sehingga tubuh kekurangan oksigen dan menghalangi transportasi dalam darah, zat karsinogen yang memicu pertumbuhan sel kanker dalam tubuh, zat iritan yang mengotori saluran udara dan kantung udara dalam paru-paru juga menyebabkan batuk, dan masih banyak kandungan lainnya.

Di samping membahas sisi ilmiah dari kandungan rokok, rasanya adalah hal yang penting juga untuk membenahi moral dari tiap individu supaya hal-hal seperti di atas tidak akan pernah terulang kembali. Benar memang Bapak itu memberi karena ada yang meminta, namun cara memberi  yang baik bukan hanya sekedar memberi apa yang ia punya, tetapi harus ada pertimbangan manfaat yang diperoleh si penerima, apa yang kita beri adalah hal positif atau tidak, dan tepat atau tidaknya objek penerima.

Saya berdoa semoga setelah saya memposting tulisan ini tidak akan bermunculan lagi orang-orang dengan pola pikir seperti Bapak tadi, yang berbagi dengan cara yang salah. Semoga Tuhan mengampuni orang-orang yang dengan sengaja menanam bibit penyakit bagi orang lain melalui rokok. Bukan hanya itu, semoga kaum muda bangsa ini semakin sadar akan akibat merokok yang membahayakan diri sendiri dan lingkungan sekitar dan semoga seluruh masyarakat Indonesia mau bahu-membahu membersihkan negara ini dari rokok. Semoga!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: