de' bhora's blog

tell the world what you want to..

Mungkin Sebesar Tulisan Itulah Besar Tanda Tanya dalam Benak Saya

pada Oktober 31, 2010

Seperi biasanya pagi itu saya bergegas menuju stasiun besar Bogor untuk menemui sahabat perjalanan saya, kereta rel listrik, atau biasa disingkat KRL. Karena ketakutan tidak bisa menerobos kerumunan penumpang untuk keluar, saya berdiri di dekat pintu. Belum lama berdiri di sana, penjual koran harian dengan stempel tulisan ‘khusus penumpang kereta’ berteriak menjajakan dagangannya. Saya pun membeli satu eksemplar koran Media Indonesia edisi Kamis, 14 Oktober 2010.

Halaman demi halaman saya lihat. Artikel dengan judul yang tidak cukup menarik saya lewatkan begitu saja, sedangkan yang berheadline menarik sesegera mungkin barisan katanya saya lahap. Mata saya menangkap sebuah judul yang ditulis dengan warna hitam dan  ukuran font yang tidak bisa dibilang kecil sehingga dari jarak dua meter, siapa pun bisa membacanya. Artikel itu diberi judul ‘Terpidana Korupsi Tetap Digaji’. Anda pun tentu tertarik bukan untuk membacanya?

Berikut ini adalah kutipan artikel tersebut.

Terpidana Korupsi Tetap Digaji

Dudhie Makmun Murod (F-PDIP)

dan As’ad Syam (F-PD) masih mendapat gaji penuh dan berbagai tunjangan sebagai anggota DPR.

Aryo Bhawono

MASIH tingginya pesimisme berbagai kalangan atas keseriusan pemerintah memberantas korupsi memang wajar. Fakta menunjukkan banyak koruptor dihukum ringan, bahkan masih ada yang justru menikmati fasilitas negara.

Itulah yang terjadi pada dua anggota DPR terpidana kasus korupsi, yakni anggota Fraksi PDIP Dudhie Makmun Murod dan anggota Fraksi Partai Demokrat As’ad Syam, yang hingga kini masih mendapat gaji penuh dan berbagai tunjangan.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPR RI Nining Indra Saleh mengungkapkan keduanya masih memiliki hak administratif sebagai anggota DPR karena belum ada keputusan presiden (keppres) yang mencabut keanggotaan mereka. “Komponen yang diterima oleh keduanya masih lengkap, baik itu gaji maupun tunjangan,” ujar Nining ketika ditemui di Gedung Parlemen, kemarin.

Dudhie adalah terpidana kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia pada tahun 2004. Ia divonis dua tahun penjara oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada 17 Mei 2010.

Adapun As’ad Syam telah divonis Mahkamah Agung (yang mengabulkan kasasi jaksa penuntut umum) pada 10 Desember 2008 atas kasus korupsi proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel Unit 22 Sungai Bahar. Ia divonis empat tahun penjara.

Sekjen DPR menegaskan pengehentian gaji dan tunjangan terhadap Dudhie dan As’ad belum bisa dilakukan selama keppres bekum dicabut. Proses pencabutan keppres harus dilakukan mlalui partai politik.

Direktur Indonesia Budget Center, Roy Salam menyayangkan keberlanjutan pemberian gaji dan tunjangan bagi keduanya. “Mereka sudah tidak pantas menerima uang rakyat lagi. Selama dalam penahanan, mereka tidak memberi kontribusi apapun.”

Ia mendesak DPR sigap menyikapi anggota mereka yang menjadi terpidana kasus korupsi. “Kejahatan itu telah mencoreng wakil rakyat dan partai. Apalagi kejahatan yang dilakukan oleh koruptor adalah mencuri uang negara,” tandasnya.

Pengurus PDIP dan Partai Demokrat, parpol asal kedua terpidana korupsi tersebut, mengaku belum dapat mengganti karena sejumlah alas an. Ketua DPP PDIP Bidang Hukum Trimedya Panjaitan beralasan PDIP belum mengganti Dudhie karena partainya belum memastikan partainya apakah Dudhie akan mengajukan banding atas vonis Pengadilan Tipikor. “Kami belum mendapat salinan putusan pengadilan,” kilahnya.

Partai Demokrat mengajukan alas an yang sama. Sekretaris Fraksi Partai Demokrat Saan Mustofa menyatakan As’ad sedang mengajukan peninjauan kembali atas putusan MA itu. “Kami ingin masalah ini benar-benar tuntas terlebih dahulu,” tuturnya. (X-7)

bhawono@mediaindonesia.com

Bagi saya meskipun kedua parpol memiliki alasan yang bisa dijadikan jawaban bagi siapa saja yang bertanya mengenai dua orang terpidana korupsi itu, tetap saja hal ini sulit diterima akal sehat, apalagi hati saya yang adalah warga negara Indonesia ini.

Saya memang bukan seorang ahli hukum. Saya bukanlah seorang yang mengerti mengenai seluk-beluk pemerintahan, namun saya sebagai bagian dari negara ini masih boleh berkomentar, menyuarakan suara saya, memperdengarkan apa yang Beliau-Beliau di sana bisa dengar.

Satu hal pertanyaan saya, bagaimana mungkin seorang pencuri kelas kakap masih boleh menerima sejumlah uang yang tidak sedikit nilainya sebagai gaji dan tunjangan. Sudah cukup kayakah negara ini? Sudah terlalu banyakkah uang dan kekayaan bangsa ini sampai bisa membayar seorang penjahat? Keadaan ini rasanya sangat kontras dengan apa yang terjadi ada masyarakat dan kaum awam negeri ini. Apakah seorang pencuri singkong atau semangka yang sempat mencuat beberapa waktu lalu —yang jelas sama sekali tidak sebanding dengan dana pemilihan Deputi Gubernur— dibiarkan begitu saja, bahkan diberikan ‘subsidi’?

Kalau parpol yang bersangkutan mengatakan belum ada keppres pencabutan keanggotaan sebagai alasan terus mengalirnya gaji dan tunjangan bagi  dua terpidana korupsi itu, mengapa tidak sesegera mungkin hal itu diurus? Bukankah katanya pemerintah serius dalam memberantas korupsi di negara ini? Lantas, mengapa hal ini tidak langsung mendapat perhatian sehingga selesai dalam waktu yang singkat?

Bukan kalimat yang salah rasanya bila saya mengatakan bahwa bila keadaan ini terus berlarut, itu berarti secara tidak langsung rakyat kita bekerja keras untuk para pencuri uang negara. Bukankah demikian? Uang yang dimiliki negara adalah hasil dari masyarakat juga, para petinggi negara digaji dari uang tersebut. Jadi, uang rakyat digunakan untuk membayar Beliau-Beliau yang terhormat itu, termasuk Beliau yang menjadi ‘tikus’ di negeri ini, bukan?

Terkadang saya hanya menghela nafas panjang untuk menanggapi hal seperti ini sebagai bentuk kepasrahan dengan nasib bangsa ini, bangsa yang di dalamnya banyak orang yang menurut saya sulit untuk berkata cukup dalam memperkaya diri masing-masing. Ya, berdoa saja semoga saya salah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: