de' bhora's blog

tell the world what you want to..

Hak Kekayaan Intelektual Melindungi Karya Seseorang

pada Maret 1, 2011

HaKI (Hak Kekayaan Intelektual) adalah pengakuan hukum yang memberikan pemegang hak untuk mengatur penggunaan gagasan-gagasan dan ekspresi yang diciptakannya untuk jangka waktu tertentu. Istilah ‘kekayaan intelektual’ mencerminkan bahwa hal tersebut merupakan hasil pikiran atau intelektualitas, dan bahwa hak kekayaan intelektual dapat dilindungi oleh hukum sebagaimana bentuk hak milik lainnya.

Hukum yang mengatur kekayaan intelektual di Indonesia mencakup Hak Cipta dan Hak Kekayaan Industri, yang terdiri atas Paten, Merek, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, Rahasia Dagang dan Perlindungan Varietas Tanaman.

1.      Hak Cipta

Hak cipta (lambang internasional: ©, Unicode: U+00A9) adalah hak eksklusif pencipta atau pemegang hak cipta untuk mengatur penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi tertentu. Pada dasarnya, hak cipta merupakan “hak untuk menyalin suatu ciptaan”. Hak cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut untuk membatasi penggandaan tidak sah atas suatu ciptaan. Pada umumnya pula, hak cipta memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas.

Hak cipta berlaku pada berbagai jenis karya seni atau karya cipta atau “ciptaan”. Ciptaan tersebut dapat mencakup puisi, drama, serta karya tulis lainnya, film, karya-karya koreografis (tari, balet, dan sebagainya), komposisi musik, rekaman suara, lukisan, gambar, patung, foto, perangkat lunak komputer, siaran radio dan televisi, dan (dalam yurisdiksi tertentu) desain industri.

Praktek foto kopi dapat dikategorikan sebagai tindakan pelanggaran hak cipta. Hal ini disebabkan karena foto kopi berarti memperbanyak suatu karya tanpa izin dari pengarang dan menerima keuntungan ekonomi atas jasa foto kopi yang diberikan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sering dijumpai koleksi perpustakaan yang merupakan hasil foto kopi. Padahal kegiatan foto kopi ini merupakan suatu bentuk pelanggaran hak cipta. Hal ini disebabkan oleh masalah klasik yang selalu dihadapi perpustakaan yaitu keterbatasan dana. Perpustakaan idealnya mampu menjadi institusi pelopor penegakan hak cipta. Kalaupun suatu koleksi perpustakaan terpaksa difoto kopi itu didasarkan pada alasan bahwa buku tersebut tidak ada di pasaran dan tidak akan dicetak lagi oleh penerbit atau buku tersebut merupakan buku asing. Buku-buku asing harganya sangat mahal sehingga dalam kegiatan pengadaan perpustakaan cukup membeli satu eksemplar buku asing tersebut kemudia jumlahnya diperbanyak dengan di foto kopi.

Maraknya praktek fotokopi di kalangan masyarakat ini juga karena sanksi hokum yang belum dapat direalisasikan. Masyarakat masih terus memilih alternatif fotokopi di samping membeli buku karena tidak ada yang melarang untuk melakukannya. Bahkan bukan hal yang baru lagi jika buku paket yang dimiliki para siswa di suatu sekolah adalah penggandaan dari aslinya.

Menurut saya cara untuk merealisasikan hak cipta (dalam hal ini berkaitan dengan buku) adalah dengan memberi sosialisasi dan sanksi yang jelas bagi pelanggarnya sehingga rasa ketakutan untuk melanggar akan timbul dalam diri setiap masyarakat. Selain itu pemerintah juga bisa berperan dalam pengadaan buku-buku sekolah, misalnya dengan memberikan subsidi berupa buku gratis bagi sekolah dan siswa yang kurang mampu.

2.      Hak Paten

Hak paten digunakan untuk melindungi suatu penemuan / invensi, misalnya saja bahan aktif obat. Masa berlaku hak paten terbatas dan tidak dapat diperpanjang. Secara praktis, mekanisme paten bisa dianggap sebagai “barter” antara pemerintah dan penemu. Penemu didorong untuk mempublikasikan penemuannya secara detail (detail ini tercantum dalam patent application). Sebagai gantinya pemerintah memberikan hak monopoli kepada penemu untuk memanfaatkan penemuan tersebut selama periode tertentu. Setelah paten tersebut kadaluarsa, masyarakat dapat memanfaatkan penemuan tersebut tanpa perlu membayar lisensi kepada penemu.

Beberapa waktu yang lalu kita pernah mendengar berita yang mengatakan bahwa Jepang mematenkan tempe. Benarkah itu?? Saat Rustono, seorang pengusaha tempe di Jepang, ditanya soal hak paten  tempe yang pernah jadi pergunjingan di negara kita bahwa tempe diklaim Jepang, Rustono menjelaskan, ”Ah, itu kesalahpahaman. Bagaimana kita mematenkan tempe yang semua orang sampai di Amerika pun tahu tempe adalah makanan asli Indonesia. Apakah Jepang juga akan mematenkan sashimi atau sushi? Mereka hanya mematenkan olahan burgernya, bukan tempenya.

Mengapa Indonesia seolah marah ketika beredar berita bahwa tempe dipatenkan oleh negara asing?  Hal itu terjadi karena tempe adalah makanan khas milik Indonesia yang sudah diketahui khalayak, bagaimana mungkin tiba-tiba dinyatakan bahwa hak patennya dimiliki oleh bangsa lain? Ternyata hal tersebut adalah kesalahpahaman. Jepang mematenkan burger olahan dari tempe, bukan tempe itu sendiri. Bolehkah Jepang membuat hak paten atas burger itu? Jawabannya adalah ya. Burger olahan Jepang mungkin memiliki ciri tersendiri dan belum ada yang menciptakan sebelumnya. Jadi, untuk menghindari perebutan kepemilikan hak paten, Jepang segera mematenkan temuannya.

Mungkin hal ini yang perlu ditiru oleh bangsa kita. Kita harus melindungi setiap karya dan kekayaan bangsa ini sehingga tidak ada satupun yang ‘dicuri’ atau diakui hak kepemilikannya oleh bangsa lain.

Hal-hal di atas hanya analisis sederhana dari penulis, bila terdapat kesalahan mohon dikritik sehingga penulis dapat memperbaikinya.

Referensi:

http://planethelicon.blogspot.com/2008/04/hak-paten.html (28 Februari @5:09 pm)

http://wanitagunung.blogspot.com/2009/08/haki-adalah.html (2 Maret 2011 @ 2:56 am)

http://im-cho.com/jepang-patenkan-tempe (2 Maret 2011 @ 6:20 am)

http://www.heri_abi.staff.ugm.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=31&Itemid=33 (28 Februari 2011 @ 5:02 pm)

http://id.wikipedia.org/wiki/Hak_cipta (28 Februari 2011 @ 05:07 pm)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: