de' bhora's blog

tell the world what you want to..

Wanita Dalam Doa

pada Maret 1, 2011

Hembusan alam masih terasa dingin menyapu kulitku. Rambutku yang tidak tersisir rapi semakin tak beraturan, sama seperti hati ini. Semua berkecamuk di dalam, ya tak beraturan.

Sudah tak terhitung berapa kali kakiku menginjak tempat ini, tempat yang sama seperti kemarin, dua hari yang lalu, tiga hari, hingga dua bulan yang lalu. Bosan? Sama sekali tidak. Semenarik itukah tempat ini? Jawabannya tidak berubah, sama sekali tidak.

Aku tak tahu rasa apa yang menghuni hatiku setiap kali memasuki ruangan dengan bau, isi, dan penghuni yang sama. Mataku hanya menatap penuh arti. Detakan jantungku terasa semakin cepat bila berada dekat dengannya. Hanya satu harapan dalam hati ini, kapan Ibuku sembuh?

Sentuhan jemariku tidak bisa dirasakannya, kecupanku pun seolah tak pernah melekat pada dahi dan tangannya, air mataku pun tak bisa membangunkannya dari tidur yang cukup panjang. Aku tak paham alat-alat apa yang terpasang di tubuhnya, aku tak tahu seberapa berharganya benda-benda itu bagi ibuku, bahkan aku tak tahu sebenarnya Ibu masih hidup atau tidak.

Aku tahu bahwa kematian adalah hal yang harus dihadapi oleh setiap ciptaanNya dan aku tahu tak ada pengecualian bagi Ibu. Jujur, aku masih belum mampu untuk menghadapi kenyataan bila saat ini Ibu harus kalah atas penyakitnya.

Kupejamkan kedua mataku sambil menggenggam erat tangan wanita yang berwajah pucat itu.

“Tuhan, banyak yang bilang Engkau tidak pernah memberikan cobaan yang melebihi kemampuan umatMu. Aku ingin meyakini itu, Tuhan.. Aku ingin ini semua hanya cobaan yang sebentar lagi akan selesai. Aku ingin Ibu lulus dari ujianMu ini, Tuhan.”

Kukecup tangan Ibu sambil menangis. Aku terlalu mencintaimu, Ibu..

***

Setidaknya berbaring di tempat tidur dapat membuat seluruh saraf dalam tubuhku sedikit rileks. Mataku menerawang, teringat kembali kalimat dokter yang menangani Ibu.

“Sudah hampir dua  bulan Ibu Anda kami tangani namun belum ada perkembangan. Kalau beliau dibiarkan seperti itu, saya khawatir kondisinya justru memburuk karena terlalu banyak asupan obat-obatan yang masuk ke dalam tubuhnya. Maaf kalau kalimat saya membuat Anda kecewa, tapi ini kenyataan yang harus Ibu ketahui. Kami menunggu konfirmasi dari pihak keluarga mengenai tindakan yang selanjutnya harus kami lakukan.”

Kubuang nafasku demi sedikit melegakan hati. Kelopak mataku terkatup dan hatiku mulai bicara.

Kalau saja saat itu Ibu tidak jatuh, semua ini tidak akan pernah terjadi.

Akibat jatuh dengan posisi duduk, ada bagian tulang belakangnya yang bergeser dari tempat yang seharusnya. Satupun dari kami tidak ada yang menanggapi jatuhnya Ibu dengan serius. Saat itu pertolongan yang dilakukan hanya memanggil Mbak Nini, tukang pijat langganan kami.  Hal yang tidak disangka-sangka pun terjadi sebelas tahun kemudian. Ibu mulai kesulitan untuk berjalan dengan posisi badan tegak, ia mulai mudah merasa lelah dan pegal, dan semakin lama badannya semakin membungkuk karena rasa nyeri yang hebat di sekitar punggung dan pinggangnya.

Operasi. Aku pikir setelah menjalani operasi Ibu akan kembali seperti semula, ternyata tidak. Ibu justru tak sadarkan diri sekian lama. Ia tak tahu siapa orang-orang di sekelilingnya bahkan ia pernah mengamuk seperti orang kesurupan. Ibu tak tahu itu semua pernah terjadi padanya. Rasa kantuknya begitu hebat.

Kapan engkau akan bangun, Ibu? Aku merindukanmu..

***

Kunyalakan komputer dan aku mulai bercerita pada mesin itu.

Ibu, mengapa engkau begitu sombong padaku, Bu? Setiap kali aku datang ke kamarmu tak sedikitpun sapa dan senyum kau berikan untukku.  Aku menunggu itu, Bu.. Dulu Ibu selalu memarahiku bila tidur terlalu lama, tapi sekarang? Hey, kau kalah, Bu, semalas-malasnya aku, tak pernah aku tidur selama dua bulan penuh. Kau harus membayar kekalahanmu ya, Bu..

Begitu banyak cerita yang belum aku sampaikan padamu, Bu. Tahukah Ibu bahwa aku sudah membelikan Ibu kalung emas dari gaji pertamaku? Sudah aku simpan di lemarimu, Bu. Oleh karena itu, lekaslah bangun, Bu, lihat betapa indahnya kalung itu. Oh ya, aku sempat dekat dengan seorang pria, Bu, namanya Tito. Belum lama aku memutuskan hubungan dengannya, Bu padahal Ibu belum sempat mengenalnya, sayang sekali ya.. Sebenarnya dia orang yang baik, Bu, tapi aku punya alasan mengapa memutuskannya. Aku tahu ketika kami hidup bersama nanti dia akan merasa kecewa padaku, Bu, karena aku akan meniggalkannya. Ah, sudahlah tak usah membahas yang sudah berlalu..

Bu, aku percaya suatu hari nanti Ibu akan bangun dan kembali ke rumah. Aku mau Ibu juga berusaha mewujudkan itu, Bu.. Jangan buat aku patah semangat ya, Bu. Berjuanglah Bu sampai kelopak matamu kembali terbuka dan sinar mentari menyilaukan pandanganmu.

Wanita itu berhenti sejenak. Disekanya air mata yang tak henti mengalir di pipinya. “Kalau saja ginjalku tak rusak, tak akan seperti ini akhirnya..”

Bu, kondisimu tak kunjung membaik karena ginjalmu rusak akibat konsumsi obat-obatan yang terlalu banyak. Dokter baru menyampaikan itu padaku kemarin dan hari ini aku memutuskan untuk mengganti ginjalmu yang rusak itu, Bu. Sekarang bagaimana? Ginjal barumu berhasil menjadi jam wekker untukmu bukan?

Selamat ya, Bu.. Akan kusampaikan berita baik ini pada ayah, mungkin kami bisa bertemu disini. Maaf kalau sekarang kau jadi sendirian, itu salahmu dan ayah mengapa dulu tak membuatkan adik bagiku, hahaha..

Bu, cerita ini kubuat untuk memberitahumua semua yang terjadi selama kau tidur. Aku menulisnya sebelum aku menjalani operasi donor ginjal. Aku sudah tahu bahwa aku takkan bisa menceritakannya langsung karena aku akan pergi. Ada kelainan di ginjal kiriku, Bu sehingga aku takkan bisa selamat. Tenanglah, aku sudah bahagia disni. Aku sangaaaaat bahagia karena bisa membangunkanmu, Bu. Kau harus ingat ya, Bu bahwa kau pernah menjadi seperti seekor beruang yang sedang hibernasi, hahaha..

Bacalah cerita ini jika kau rindu padaku.

Aku sungguh mencintaimu, Bu..

“Terimakasih, Nak.. Terimakasih.. Ibu juga sangat mencintaimu..”

Tangisnya pecah, tangis seorang ibu yang memecah keheningan malam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: