de' bhora's blog

tell the world what you want to..

Bantuanku Berat di Lidah

pada Mei 17, 2011


Hari Sabtu yang menjadi hari libur bagi sebagian orang membuat kereta ekonomi tujuan Jakarta pagi itu cukup lega. Meski semua bangku terisi oleh penumpang, aku masih bisa merasakan kenyamanan. “Hmm, seandainya setiap hari kereta ekonomi seperti ini” gumamku dalam hati. Menunggu keberangkatan, aku membaca sebuah novel remaja bersampul jingga. Kegiatanku terhenti ketika terdengar percakapan yang menimbulkan sedikit keributan.

Kulihat sepasang pria dan wanita sedang melakukan percakapan dengan seorang wanita bule (keturunan Barat). Karena posisi dudukku yang tidak jauh dari pintu kereta, aku dapat mendengar percakapan mereka. Wanita bule itu memegang selembar karcis dan bertanya kepada pasangan di hadapannya, “Is this train stop in Gambir?” Dengan bahasa Inggris yang terdengar agak kaku, pasangan itu menjawab sambil memperhatikan karcis si bule, “Oh, this train not stop in Gambir.” Kereta ekonomi memang tidak pernah berhenti di stasiun Gambir.

Kira-kira beginilah percakapan ketiga orang itu (B= Bule, P= Pria, W= Wanita).

P: “You must change the ticket with Pakuan so you can stop in Gambir.”

B: “Okay, where is the train?”

Pasangan itu mencari-cari kereta Pakuan Ekspress yang ditanya oleh si bule. Tidak ada. Saat itu kereta Pakuan Ekspress ―satu-satunya kereta dari Bogor dan Jakarta yang berhenti di Gambir― memang belum tiba di Bogor.

W: “Ehm, now you must change the ticket, Miss.”

Si bule mulai lelah dengan percakapan yang dirasanya berbelit-belit.

B: “Yes, I have changed the ticket. First I buy Ekspress ticket and then I change it with this.” Ditunjuknya karcis ekonomi yang ada di tangannya. “Now I want to go to Gambir and then I go to Bandung. That’s it. Which one is the train?” jelasnya dengan nada suara yang mulai menampakkan kekesalan.

P dan W terlihat semakin bingung. Aku pun ikut bingung mendengar dan melihat mereka bertiga. Teringat pada jadwal kereta yang ada dalam tas, aku mencari jadwal keberangkatan Pakuan Ekspress tujuan Jakarta. Di sana tertulis bahwa pada pukul 09.20 ada satu Pakuan yang berangkat.

Aku memutuskan untuk menghampiri mereka. Sebelum itu aku merangkai kalimat yang akan kuucapkan pada bule itu. Aku akan mengatakan bahwa kereta Pakuan belum tiba di Bogor namun pada pukul 09.20 akan melakukan perjalanan ke Jakarta. Beginilah rangkaian kalimat yang kubuat dalam benakku.

Excuse me, Miss. Is there anything I can do for you?” Kemudian wanita bule itu akan menjawab, “Yes, I want to go to Gambir.” Jawaban yang akan kuberikan seperti ini, “Oh, this train is economy train and doesn’t stop in Gambir, so you have to change your ticket with Pakuan Ekspress. Now there’s no that train here, but on nine…” tunggu, bagaimana aku menyebutkan 09.20 dalam bahasa Inggris? Nine twenty? Nine pass twenty? Twenty pass nine? Ah, sial.

Niatku memberi informasi kuurungkan bertepatan dengan kedatangan kereta Pakuan Ekspress yang akan berangkat pukul 09.20.

B: “Is that the train?” Pandangan dan jari telunjuknya mengarah pada sebuah kereta yang baru masuk stasiun Bogor.

P&W : “Oh, ya, ya.. That is Pakuan.” Tanpa ragu bule itu berjalan menuju kereta itu. Satu hal yang dilupakannya atau mungkin memang tak diketahuinya bahwa karcis yang dimilikinya adalah karcis kelas ekonomi. Tentu ia harus menukarnya dengan karcis Pakuan seharga Rp11.000,00.

P: “Miss, you must change the ticket.” Bule itu tak mau mendengar. Kulihat wajahnya menunjukkan kelelahan dan kekesalan karena kesulitan mendapatkan informasi. Ia terus pergi meninggalkan pasangan yang sebenarnya sudah sedikit membantu.

Kepergian wanita bule itu juga membuat pasangan yang sebelumnya ingin masuk ke kereta ekonomi yang aku naiki ini melanjutkan kegiatannya. Aku hanya bias diam dan merasakan sedikit penyesalan karena tak jadi membantu. “Huh, gara-gara 09.20 aku jadi nggak bisa ngasih tahu deh..” keluhku dalam hati.

Mungkin kita sering dihadapkan dengan kondisi demikian. Aku tahu sebenarnya ada banyak hal yang bisa disampaikan oleh pasangan tadi sebagai informasi yang membantu bagi wanita bule itu, namun karena perbedaan bahasa, hal tersebut menjadi sulit. Menurutku wajar saja jika wanita bule itu kesal karena ia merasa sulit sekali mendapatkan jawaban dari orang Indonesia yang tidak terlalu fasih berbahasa mereka.  Pasangan tadi pun tak bisa disalahkan karena sering kali kemampuan berdialog dengan bahasa Inggris menjadi sulit ketika dilakukan dalam spontanitas dan situasi mendesak.

Begitu pula dengan aku, tak bisa disalahkan karena gagal membantu. Aku hanya bisa menyalahkan mengapa jadwal Pakuan saat itu pukul 09.20 yang tak bisa kuterjemahkan dalam bahasa Inggris. Hahahaha😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: