de' bhora's blog

tell the world what you want to..

Peraturan Ditaati Bukan Karena Diawasi

pada Mei 17, 2011


Di tengah terik matahari siang itu, seorang remaja lelaki berjalan menuju sebuah stasiun  kereta api Depok Baru yang terletak di daerah Pancoran Mas, Depok. Sebut saja namanya Tukul. Seperti biasa, setiap calon penumpang kereta api diwajibkan untuk membeli tiket atau karcis yang tarifnya berdasar pada stasiun tujuan masing-masing.

Beberapa saat sebelum memasuki stasiun, Tukul merogoh kantung celana dengan tangan kanannya untuk mengambil dua lembar uang nominal Rp1.000,00. Uang itu akan ditukarnya dengan selembar karcis KRL (Kereta Rel Listrik) ekonomi tujuan Bogor. Langkahnya terhenti ketika ia tidak mendapati petugas yang biasa berdiri di sebelah pintu masuk untuk memeriksa karcis. “Ah, kemarin-kemarin gue beli karcis nggak diperiksa mulu, mumpung nggak diperiksa, sekarang gue nggak usah beli lah..” batinnya sambil berjalan memasuki peron tujuan Bogor. Memang hampir dua minggu terakhir ini tidak ada petugas di stasiun yang memeriksa karcis milik penumpang yang akan keluar dari stasiun. Karcis hanya diperiksa saat penumpang akan memasuki stasiun.

Bagi seorang pelajar, uang senilai Rp2.000,00 memang cukup berarti, misalnya untuk membayar ongkos angkutan umum, membeli air minum atau camilan ringan, dan lain-lain. Tidak berbeda dengan Tukul. Ia memasukkan kembali uang itu ke dalam kantungnya. Dicarinya bangku untuk menunggu kedatangan alat transportasi andalannya. Mengingat pesan singkat yang dikirimkan ibunya, Tukul harus sesegera mungkin tiba di rumah.

Objek yang ditunggu-tunggu pun tiba. Penumpang yang berada di dalamnya memenuhi kereta kelas terendah di Indonesia itu, namun tak sampai padat. Seperti penumpang lelaki pada umumnya, Tukul memilih berdiri di sekitar pintu kereta untuk menghindari kepengapan di dalam kereta.

Dua stasiun menuju Bogor, ia dipersilakan duduk oleh seorang bapak yang akan turun. Hanya butuh beberapa saat untuknya melelapkan diri karena memang ia sudah merasa letih. Entah karena sudah terbiasa atau karena rem yang menimbulkan sedikit goncangan, Tukul terbangun tepat ketika kereta tiba di Bogor.

Tak diduga dan tak disangka, sebuah pemandangan sangat mengejutkan sehingga  membelalakkan mata remaja lelaki yang sedang mengenakan kaus coklat itu. Dua orang petugas memeriksa dan mengumpulkan karcis penumpang kereta yang ditumpanginya! “Mampus gue!!” serunya panik. Ia berusaha mencari cara untuk lolos dari pemeriksaan. Dilangkahkan kakinya dengan santai ―demi menghindari kecurigaan petugas― ke pintu keluar samping dengan harapan tidak ada pemeriksaan di sana. Gagal! Seorang petugas berdiri tegak bahkan sedang menyuruh dua orang penumpang tak berkarcis. “Bisa kaya mereka nih gue kalau ke situ. Aduuuhhh…” Kepanikan semakin menguasai Tukul. Tanpa sadar ia kembali ke pintu keluar utama. “Gimana nih??” Ia berpikir keras. “Ah, kampret! Biasanya nggak diperiksa juga..”

Tidak ada pilihan lain. Ia harus kembali ke kereta, berperan menjadi seorang penumpang tujuan Jakarta (lagi), dan turun di stasiun Cilebut ―satu stasiun setelah Bogor― kemudian membeli karcis tujuan Bogor. Setibanya di Bogor, dengan bangga ia akan memperlihatkan karcis itu kepada petugas di Bogor, bila perlu melakukan tari-tarian persembahan karcis dengan penuh kemenangan! Ya, hanya itu.

Ia duduk di salah satu bangku sambil mengatur mimik wajah supaya tidak terlihat panik dan aneh oleh penumpang lain. “Ya elah, konyol banget sih gue. Apessss bener!” gerutunya dalam hati. Tak lama kemudian kereta berangkat. Sepanjang perjalanan pikiran Tukul terus memutar urutan kejadian sehari itu. “Tau begini, gue beli dah tadi karcis. Ketimbang dua ribu doang dah..” sesalnya dalam hati. Seharusnya saat itu ia sudah tiba di rumah dan meneguk segelas air dingin.

Hanya butuh delapan menit untuk sampai di Cilebut. Begitu kereta berhenti, Tukul segera melompat ke luar dan mencari tempat penjualan karcis. “Eh, tapi kalau ntar petugasnya ngeliat gue baru keluar dari kereta tapi malah beli karcis gimana ya??” Ia merasa kepalanya dipenuhi kutu sehingga terasa gatal. “Ampun, Tuhan.. Gue janji nggak bakal absen beli karcis deh mulai sekarang.” Seketika ide muncul dalam benaknya. “Oh, gue tau! Kalau ntar ditanya, gue bilang aja barang gue ketinggalan di Bogor jadi harus balik! Aha!!” Langkahnya semakin mantap menuju loket karcis.

Sesampainya di sana ternyata petugas tidak menanyainya seperti yang dia kira sebelumnya. setelah sebuah tiket ada dalam genggamannya, ia segera menunggu kedatangan kereta di peron satu. Kira-kira lima belas menit menunggu, kereta pun tiba. Cepat-cepat ia masuk ke dalam kereta yang saat itu terlihat sangat kumuh karena becek.”Ambil deh ni karcis, kalau perlu makan!” Ia bicara dalam hati seolah-olah seorang petugas ada di hadapannya.

Kira-kira delapan menit kemudian Tukul bersama dengan penumpang lainnya tiba di Bogor. Dikeluarkannya karcis berwarna biru untuk diserahkan kepada petugas. Decak kesal tanpa sadar keluar dari mulutnya saat ia tidak melihat petugas berdiri di samping pintu masuk untuk memeriksa karcis seperti sebelumnya. “Ah, kemana sih tuh orang?! Giliran gue nggak punya karcis, diperiksa. Sekarang gue udah punya karcis nih, ck!” Sambil memasukkan kembali karcis itu, ia keluar stasiun dengan sedikit kesal. “Tau gitu gue nunggu di sini aja tadi sampe petugasnya pergi, nggak perlu ke Cilebut. Sial bener deh gue hari ini..”

Baginya hari itu sangat berkesan dan akan menjadi sulit untuk dilupakan. Ia berjalan menuju jalan raya, tempat angkutan umum mengetem. Dipandanginya karcis itu. Ia tertawa dalam hati sehingga tanpa sadar sebuah sunggingan senyum tercetak di wajahnya. “Gue bakal simpen karcis ini. Karcis keramat! Hahaha…”

Dari pengalaman Tukul, ada yang dapat kita pelajari. Membeli karcis adalah suatu kewajiban, bukan kebebasan memilih. Saya jadi teringat pada kalimat yang sering diucapkan Ibu bahwa segala sesuatu punya harga yang harus dibayar. Meski tidak ada yang mengawasi atau memeriksa, kita harus melakukan peraturan yang sudah ada dengan baik.

Singkatnya, memang sudah selayaknya dan sepantasnya kita membeli karcis sebagai wujud kontrbusi perawatan KRL. Apapun cerita dan keadaannya, ada atau tidak petugas pemeriksa, karcis harus dibeli jika Anda memutuskan untuk menggunakan fasilitas KRL. Semoga nominal Rp2.000,00 tidak membuat Anda berputar-putar seperti Tukul. Sekian, semoga bermanfaat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: