de' bhora's blog

tell the world what you want to..

Maaf, Kita Tak Sama, Kawan…

pada Mei 18, 2011


Pagi itu kampus masih sepi. Selain Luna hanya ada Mirna dan Roma di kelas. Mereka yang tidak terlalu akrab satu sama lain memiih untuk menyibukkan diri denga kegiatan masing-masing. Mirna mendengarkan musik sambil menggerak-gerakkan kakiknya, Luna menggambar tokoh kartun di kertas buram, dan Roma hanya diam memandangi sekitarnya. Semakin lama kelas semakin terisi penuh oleh mahasiswa yang akan mengikuti mata kuliah Bahasa Inggris. Mereka bertiga sudah menghentikan kegiatannya dan bergabung dengan teman akrab masing-masing. Tanpa terasa perkuliahan hari itu berjalan dengan sangat cepat.

Keesokan harinya kejadian serupa terjadi di kelas yang sama. Luna, Mirna, dan Roma kembali menjadi tiga mahasiswa tersepat yang hadir di kelas. Kesibukan untuk menunggu kehadiran teman-teman yang lain pun tidak berbeda jauh dengan kemarin, hanya saja Roma yang duduk dua baris di belakang Luna sibuk mengerjakan tugas matematika ekonomi yang akan dibahas pada jam ketiga.

Roma menepuk pelan pundak Luna yang belum selesai membuat kaca mata untuk tokoh kartun yang sedang digambarnya. Luna menoleh, “Kenapa?” Roma tersenyum simpul sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

“Boleh liat matek lo, nggak?”

Luna memandang lelaki di hadapannya sekian detik kemudian membuka tasnya. “Nih, nomor lima gue belum juga tapi. Jangan lecek ya..”

“Beres.”

Beberapa saat kemudian Roma selesai menyalin tugas matek milik Luna. “Nih, Lun. Thanks ya..” ucapnya sambil tersenyum. Yang diajak bicara hanya mengangguk.

Keesokan harinya kejadian tak berbeda kembali terjadi. Tiga orang itu menjadi mahasiswa tercepat dan terus menjadi mahasiswa tercepat. Hal yang membedakan adalah Roma sudah tak hanya diam memandangi sekitar saat menunggu jam kuliah mulai, namun mulai sering mengajak Luna dan Mirna berbicara bahkan mereka sering tertawa bersama. Begitu terus yang terjadi hingga akhirnya mereka bertiga semakin akrab dan tidak canggung lagi satu sama lain.

Suatu sore setelah pulang kuliah, Luna yang segera bergegas pulang membuka payungnya yang berwarna hijau. Beberapa saat akan menggerakkan kedua kakinya berlari, sebuah suara memaksanya mengurungkan niat dan mencari sumber suara itu. Dilihatnya seorang lelaki berlari ke arahnya. Roma!

“Lo yang manggil gue?”

“Iya. Aduhhh, cape gue.” Terdengar nafasnya tersengal-sengal. “Gue bareng dong, Lun. Sampe jalan raya doang kok, ke tempat angkot. Numpang payung, Lun..” jelasnya diakhiri dengan cengiran lebar.

“Jiah, kirain ada apa sampe teriak-teriak. Yaudah ayo cepet.”

Tubuh Roma yang lebih tinggi membuat Luna keseulitan memegangi payungnya. Ia harus memegang dengan lebih tinggi agar payung tak mengenai kepala Roma. “Lo aja deh yang megang payungnya, kan lo lebih tinggi” pinta Luna yang saat itu sebenarnya merasa canggung berdekatan dengan seorang laki-laki, apalagi di tepan umum.

“Yaelah, apa kata dunia, Lun, cowok sekeren gue megang payung?!” Roma dengan santai menjawab dengan kalimat dan nada tak enak didengar telinga. Luna seketikan menoleh pada Roma dengan satu alis terangkat. Mimiknya seolah mengatakan ‘Apakah Anda yakin dengan kalimat barusan?’

“Ih, pede amat lo. Sono, sono, jangan pake payung gue.” Luna memasang mimik kesal sambil sedikit mendorong tubuh Roma hingga tangan kirinya dibasahi air hujan.

“Woy, woy, buset dah. Basah deh kan gue, Lun.. Parah nih” Diusap-usapnya tangannya yang basah. “mbok ya kalau nolong tuh yang ikhlas toh, non..”

Luna hanya tertawa. “Makanya jangan kepedean jadi orang!”

Tak terasa mereka sudah sampai di jalan raya. Angkutan umum yang mereka naiki berbeda karena memang arah tujuan mereka pun berlawanan.

“Oke deh, thanks ya Lun. Hati-hati lo.” Roma menepuk pelan bahu kiri Luna.

“Iya, sama-sama.” Mereka berjalan masing-masing.

“Luna!” Si pemilik nama menoleh. “Kalau jatuh bangun sendiri ya! Hahahaha..”

Luna cemberut. “Rese lo!” Keduanya pun tertawa dan masuk ke dalam angkutan masing-masing. Ya, kini mereka memang tak sekaku dahulu, tak secanggung dahulu. Setidaknya kini mereka bercanda dan ada yang merasa sangat nyaman atas semua itu.

Mereka terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Roma memainkan gantungan kunci motornya hingga menimbulkan bunyi cukup nyaring sedangkan Luna terdiam dengan kepala sedikit menunduk. Tangannya menggeser gelas ke kanan, memutar-mutarnya, menggeser ke kiri, dan menggerak-gerakkan ke depan dan belakang. Keheningan yang merajai mereka sudah berlangsung hampir sepuluh menit. Sepuluh menit yang terasa sangat panjang bila dihadapakan pada kondisi demikian.

“Gue anter lo pulang, ya..” Roma memecah keheningan.

“Oh, nggak usah, Rom.. Rumah kita kan berlawanan arah.” Luna menolak dengan halus. Tahu bahwa akan terus didesak, ia menambahkan penjelasan lagi, “Lagian gue nggak langsung ke rumah, mau ke rumah tante gue dulu.”

Roma mengangguk-angguk. “Oke lah kalau gitu, take care ya..” Ia menggenggam tangan Luna. Hanya sekejap, beberapa detik.

“Lo juga hati-hati.”

Apa yang baru saja terjadi seolah kembali diputar dalam benak Luna. Setiap detail peristiwa itu masih lekat benar hingga tak sedikit pun terlupakan.

“Lun, gue nyaman sama lo.” Roma memulai percakapan dengan agak malu-malu. Luna tersentak. Ia tidak yakin dengan apa yang didengarnya barusan namun ia menolak untuk meminta Roma mengulangi kalimatnya.

“Gue seneng tiap bareng sama lo. Lo ngerasa gitu juga nggak?”

Mampus gue! Luna panik namun berusaha tak menunjukkannya. Ia bingung harus menjawab apa. Senyum! Itulah jawaban yang ia berikan. Apa maknanya, terserah pada Roma mau mengartikannya seperti apa.

“Ehm, kalau gua minta lo jadi cewek gue, mau, Lun?”

Nah ini dia yang paling susah. Hanya Luna yang tahu betapa kencang degupan jantungnya.

“Lun?” Roma menantikan jawaban.

Merasa tak nyaman dan ingin sesegera mungkin keluar dari situasi itu, Luna pun memberikan jawaban. “Ehm, gini Rom, sebelumnya terima kasih atas perasaan lo ke gue. Gue seneng lo ngerasa nyaman sama gue. Gue juga seneng bisa akrab sama lo.” Dikumpulkannya kekuatan. Ia tahu sebenarnya Roma sudah tahu jawaban apa yang akan keluar dari mulutnya. “Tapi untuk jadi cewek lo, gue nggak bisa, Rom. Maaf ya..” Luna melirik wajah Roma yang terlihat mendung. Kini lelaki itu tak secerah sebelumnya.

“Kenapa, Lun? Lo bilang nyaman sama gue?” Roma mulai terlihat tak rela.

“Iya, tapi perasaan nggak bisa dipaksa kan, Rom?”

“Berarti tadi lo bohong bilang kalau lo nyaman sama gue?”

“Nggak gitu juga.. Please lo jangan salah sangka.”

“Trus?”

Inilah yang paling tak disukai Luna, menjawanb pertanyaan yang sulit untuk dijawab. “Lo mau gue jujur?”

“Ya, of course.” Roma mulai antusias. Ia menegakkan posisi duduknya. Ia tidak tahu kalau mungkin saja kalimat Luna selanjutnya akan lebih menyakitkan. Tapi Roma sudah mantap mengatakan bahwa ia jelas ingin alasan jujur dari Luna.

“Oke, karena lo minta gue jujur, gue bakal jelasin.” Luna menarik nafas. “Kita, beda,  Rom. Kita nggak bakal bisa nyatu.”

Roma mengerutkan dahi. “Maksudnya?”

“Maaf, Rom, tapi prinsip gue adalah berusaha menghindari hubungan dengan fondasi yang nggak sama.” Roma semakin tak paham. “Kepercayaan kita beda, Rom”

Hening.

Tanpa bermaksud menjadi seorang yang fanatik, Luna memang sadar betul bahwa agama dan kepercayaan adalah hal yang sangat penting dalam membangun suatu hubungan. Luna yakin bukan hal yang mudah untuk mengorbankan kepercayaan kita demi menyamakan dengan  pasangan.

luna tak ingin menganggap hubungan dengan Roma bisa dicoba dulu karena sesuatu yang sudah dimulai akan menjadi lebih sulit diakhiri jika sudah dijalani beberapa waktu. Ia hanya tak ingin ada yang berkorban untuk salah satu dari mereka.

Itulah akhir percakapan mereka yang menyisakan perasaan sedih, bukan hanya bagi Roma melainkan juga bagi Luna. Roma memainkan gantungan kunci motornya hingga menimbulkan bunyi cukup nyaring sedangkan Luna terdiam dengan kepala sedikit menunduk. Tangannya menggeser gelas ke kanan, memutar-mutarnya, menggeser ke kiri, dan menggerak-gerakkan ke depan dan belakang.

Luna harus merelakan kekakuan kembali muncul meski sebenarnya hatinya sedih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: